Mei 10, 2008

Tafsir QS. Al-Baqarah: 1

Alif Laam Miim:
Rahasia Tiga Huruf yang Tak Tersibak

Oleh: Uup Gufron
----
Alif Laam Miim. Begitu ayat pertama Surat al-Baqarah berbunyi. Satu ayat berisi hanya tiga huruf. Tak kurang, dan tak lebih. Tak ada tambahan kata apapun, baik sesudah maupun sebelumnya. Tampaknya, ada rahasia yang Allah sembunyikan di sini. Kenapa Allah menurunkan ayat yang sulit dipahami ini? Kenapa pula Allah menyebutkan tiga alfabet Arab itu di awal surat yang diberi nama ‘Sapi Betina’ ini?
----
Satu sore dalam sebuah pengajian anak-anak di surau, seorang bocah mengajukan pertanyaan kritis kepada ustadznya soal alif laam miim yang tak bisa ia pahami dalam bahasa Indonesia. “Ustadz, kenapa ada ayat yang tidak ada artinya?” tanya si bocah penuh penasaran.
Sang ustadz terdiam sejenak. Ia harus berpikir sebentar untuk merangkai jawaban yang pas dan tepat untuk ukuran bocah usia 9 tahun. Ia tak mungkin menjabarkan sesuatu yang sulit dijangkau akal bocah seusia itu.
“Allah menurunkan ayat ini agar kita bisa membaca dan mempelajari al-Quran. Kalau adik-adik tidak bisa mengerti dan memahami ayat ini, berarti adik-adik harus belajar giat lagi untuk bisa memahami semua ayat al-Quran sampai selesai. Kalau adik-adik sudah khatam al-Quran, insya Allah nanti adik-adik akan tahu kok,” jawab sang ustadz penuh hati-hati.
“Tapi, kita kan sudah selesai pelajari surat al-Fatihah?” tanya balik si bocah itu.
“Al-Fatihah itu surat permulaan. Namanya juga al-Fatihah, yang berarti pembukaan. Artinya, adik-adik baru mempelajari awalnya saja. Belum sampai intinya. Makanya, adik-adik harus giat belajar al-Quran, biar nanti adik-adik tahu apa itu alif laam miim,” jawab si ustadz.
Pengajian pun selesai. Semua santri pulang ke rumah masing-masing. Namun, hanya ada seorang santri yang masih tetap duduk di bagian serambi surai. Ia masih terngiang jawaban ustadznya, bahwa ia akan tahu alif laam miim kalau sudah selesai mempelajari semua kandungan al-Quran. “Sebegitu sulitkah?,” pikirnya dalam hati.
Si bocah itu kemudian beranjak pulang. Sesampai di rumah ia bertemu dengan ayahnya yang sedang membaca koran di serambi depan rumah. Si anak mendekati ayahnya. Ia kemudian bertanya, “Ayah, apa arti dan maksud ayat alif laam miim?”
Pertanyaan ini kontan membuyarkan konsentrasinya. Ia menghela napas panjang. Ia lalu melepaskan kaca matanya dan meletakkan kertas koran di pinggir meja. Ia tatap anaknya penuh kasih sayang. Ia tahu kalau anaknya memiliki IQ cukup tinggi. Anaknya terbilang cerdas dan kritis. Ia sangat bersyukur karena dikarunia seorang anak yang begitu cerdas dan kritis.
“Anakku, tidak semua apa yang ada di al-Quran Allah perlihatkan kepada kita. Alif laam miim, salah satunya. Hanya Allah yang tahu makna ayat ini,” jawab sang ayah.
“Kata ustadz, kita akan mengerti kalau sudah khatam al-Quran?” bocah itu mengadu soal jawaban dari ustadznya.
“Ya, benar. Kita akan tahu kalau kita sudah khatam dalam memahami al-Quran.”
“Jadi, ayah belum khatam dong?”
“Ya, benar, ayah belum khatam mempelajari al-Quran.”
“Tapi ayah kan sudah pandai, bahkan menjadi imam masjid. Terus sampai kapan ayah akan belajar al-Quran?”
“Sampai al-Quran benar-benar tidak menyisakan satu huruf pun yang tidak kita pahami.”
“Sampai kapankah itu, ayah?”
“Sampai kita tak sanggup lagi mempelajarinya.”
Anak itu kemudian terdiam. Ia mencoba merenungi apa yang dikatakan ayahnya. Ia kini tahu kenapa Allah menurunkan ayat misterius itu. Baginya, ayat itu kini menjadi motivasi agar dirinya terus menggali semua kandungan dan nilai yang ada dalam al-Quran. Ia bertekad akan terus belajar dan belajar. Sampai ia tak diberi kesempatan lagi untuk belajar.

Menjawab Keraguan Kaum Yahudi
Memang, mengkaji al-Quran tak terbatas oleh ruang dan waktu. Banyak hal bisa dikaji dalam Kitab Suci itu. Semuanya tak akan habis ditelan zaman. Sampai kapan pun, al-Quran akan selalu sempurna dan tak tertandingi. Tak ada manusia yang bisa mengungguli atau bahkan meniru mu’jizat terhebat itu, meski hanya satu huruf sekali pun. Sebab, al-Quran akan dijaga langsung oleh Allah, hingga akhir zaman nanti (lihat QS. al-Hajr: 9) Mungkin ini salah satu alasan kenapa al-Quran disebut mu’jizat yang sangat luar biasa. Dikaji dari segi apapun al-Quran akan selalu tampak sempurna.
Begitu banyak orang yang mencoba meniru atau bahkan merusak kandungan al-Quran, namun semuanya sia-sia. Sebut saja Musailimah al-Kadzab. Ia pernah mencoba mengarang al-Quran tandingan sepeninggalnya Rasul. Tapi, apa yang dihasilkan tak lebih dari syair-syair yang tak berbobot. Ia mengira bahwa al-Quran adalah karya Nabi Muhammad. Padahal, al-Quran adalah kalam ilahi yang diturunkan kepada Nabi untuk dijadikan sebagai pedoman hidup bagi umat Islam. Al-Quran sungguh bukanlah karangan Nabi semata.
Tak hanya Musailimah, di zaman ini pun banyak sekali bermunculan orang yang mencoba membuat al-Quran tandingan. Awalnya mereka mengaku sebagai Nabi. Setelah itu mereka mencoba mencari kelemahan al-Quran dari berbagai sudut. Pada akhirnya mereka membuat kitab suci baru yang persis atau bahkan berbeda dengan al-Quran. Namun, usaha mereka itu tidaklah akan menemukan hasil. Sebab, al-Quran adalah kitab suci terakhir bagi umat manusia yang tak mungkin dapat dirusak oleh siapa pun. Di dalamnya mengandung banyak nilai dan ajaran yang bisa menjawab keraguan hati pada ilahi.
Surat al-Baqarah sendiri, salah satunya, diturunkan untuk menjawab keraguan umat pada kebenaran Islam. Surat al-Baqarah diturunkan di Madinah, di saat Nabi membangun masyarakat Islam di kota itu. Nabi hijrah dari Makkah ke Kota Madinah akibat tekanan dari kaum Quraisy yang begitu dahsyat. Mereka tidak senang jika Islam berkembang di sana. Akhirnya, ia bersama para sahabat berangkat ke Madinah dan di sana memperoleh sambutan hangat dari masyarakat Madinah, yang kala itu masih disebut Kota Yatsrib.
Meskipun Nabi memperoleh sambutan yang hangat dari Kaum Anshar di Madinah, tak sedikit kelompok orang yang mencoba memusuhi dan merongrong Nabi dari belakang. Mereka adalah orang Yahudi. Mereka menganggap bahwa kedatangan Nabi di kota itu dapat merusak tatanan sosial dan bisa menghacurkan agama mereka. Padahal, Nabi sendiri telah memberikan jaminan bahwa mereka akan tetap aman di kota itu. Tetapi, mereka tetap saja merasa ragu dengan apa yang Nabi katakan.
Prof Dr Syekh Muhammad al-Gazali, pakar tafsir asal Mesir, mengemukakan bahwa kaum Yahudi yang tinggal di Madinah merupakan kelompok pendatang dari daerah subur di Hijaz yang melarikan diri dari penindasan bangsa Romawi. Mereka kemudian hidup di tengah bangsa Arab dan merasa nyaman tinggal di Madinah. Keberadaan mereka memang terbilang minoritas. Namun, setelah kedatangan Nabi dan para sahabatnya di Madinah, bangsa Yahudi ini merasa terancam. Mereka beranggapan bahwa Muhammad akan bertindak sama seperti bangsa Romawi.
Karenanya secara perlahan mereka menyiapkan perlawanan dan mencoba membangun kekuatan. Konspirasi secara tersembuyi dan terbuka pun dilakukan guna melawan Nabi. Mereka pun melakukan tipu daya kepada Nabi dan umat Islam di Madinah. Nabi mencoba mengambil rasa simpatik mereka, tapi mereka tetap saja menolak keberadaan umat Islam di sana. Saat keraguan umat Yahudi kepada Islam kian bergejolak, maka Surat al-Baqarah diturunkan oleh Allah. Ayat ini mencoba memberikan jawaban kepada mereka bahwa Islam tak perlu diragukan lagi kebenarannya. Maka, ayat pertama yang diturunkan adalah tiga huruf rahasia, alif laam miim, yaitu ayat yang menyimpan banyak rahasia.

Rahasia di Balik Rahasia
Para mufasir atau pakar tafsir berbeda pandangan dalam menafsirkan ayat alif laam miim. Hingga kini pun belum ada yang bisa membuka secara pasti apa yang ada di balik tiga huruf itu. Bahkan, sejak abd ke-1 hingga ke-3 Hijriyah, tak ada satu mufasir pun yang berani menafsirkannya. Sebut saja misalnya Jalaluddin Muhammad Ahmad al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar as-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain-nya. Mereka berkata soal alif laam miim: “Allahu a’lamu bimuradihi bidzalika” (Allah yang lebih tahu dengan apa yang dimaksud pada ayat itu). Mereka beralasan bahwa ayat itu termasuk ayat mutasyabih, yang hanya Allah sendiri yang tahu maksudnya. Manusia sengaja tidak diberi tahu.
Setelah abad ke-3 baru banyak mufasir yang mencoba menguak dan menyibak rahasia di balik ayat itu. Pada saat itulah, banyak pandangan bermunculan soal ayat tersebut. Ada yang berpendapat bahwa alif laam miim termasuk dari sifat-sifat Allah. Ada pendapat ulama yang menyebutkan bahwa alif itu berarti Allah, laam itu berarti Jibril, dan miim itu adalah Muhammad. Tiga huruf ini dimaksudkan soal proses turunnya al-Quran, yaitu dari Allah kemudian dibawa Jibril dan disampaikan kepada Muhammad. Namun, pendapat ini dinilai lemah oleh sebagian ulama yang lain. Ada juga ulama tasfsir yang berpendapat bahwa alif laam miim itu merupakan nama lain dari surat al-Baqarah.
Nama lain dari surat ini adalah as-Sinam, yang berarti ‘puncak’. Nama ini untuk menunjukan bahwa tidak ada lagi puncak petunjuk yang lebih tinggi setelah al-Quran. Al-Quran adalah pedoman hidup bagi umat manusia yang bisa mengantarkannya ke dalam kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat kelak.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa surat ini juga diberi nama az-Zahra, yang berarti ‘terang benderang’. Surat ini diberi nama az-Zahra karena kandungan surat ini dapat menerangi jalan dengan terang-benderang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, serta menjadi penyebab bersinar terangnya wajah siapa saja yang mengikuti petujuk-petunjuk surat ini kelak di kemudian hari. Sebab, dalam surat ini mengandung nilai-nilai dan anjuran menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Nama al-Baqarah sendiri tak terlepas dari apa yang digambarkan dalam ayat tersebut. Al-Baqarah, yang berarti ‘sapi betina’, adalah sebuah kisah dalam surat ini yang menceritakan tentang seekor sapi betina dan masyarakat Bani Israel. Dikisahkan bahwa ada seseorang mati akibat dibunuh, namun semua orang tidak tahu siapa yang membunuhnya. Masyakat Bani Israel kemudian saling tuduh satu sama lain. Mereka menaruh curiga kepada siapa pun.
Menghadapi hal ini, mereka kemudian menemui Nabi Musa dan meminta petunjuk agar diberi tahu siapa yang membunuh salah satu kaum mereka itu. Allah kemudian memberi petunjuk kepada Musa agar menyuruh umat Bani Israel menyembelih seekor sapi betina. Kemudian mereka langsung menyembelihnya. Setelah Nabi Musa berdialog cukup lama dengan Bani Israel, maka ia langsung saja memukulkan bagian sapi itu ke bagian tubuh mayat. Maka, atas izin Allah orang itu kemudian hidup kembali dan memberi tahukan siapa yang telah membunuhnya.
Kembali ke soal tiga huruf tadi. Dalam soal alif laam miim, ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa tiga huruf itu dimaksudkan untuk memperingatkan kaum musyrik sehingga mereka mau mendengarkan firman Allah. Sehingga, ayat yang sulit dipahami ini diturunkan. Namun, bagi Ibnu Katsir, pendapat ini dianggap cukup lemah. Ibnu Katsir lebih condong mengikuti pendapat Ibnu Taimiyah yang berpandangan bahwa dengan adanya tiga huruf itu, maka itu akan tetap menjadi misteri. Karena ia menjadi misteri, maka di situlah letak kemukjizatan al-Quran. Artinya, tiga huruf itu akan selalu menjadi rahasia abadi di muka bumi.
Alasannya, dalam menyajikan seluruh huruf yang terpotong-potong dalam setiap awal surat pasti selalu diikuti dengan menyebutkan bagaimana turunnya al-Quran dari Allah kepada umat manusia. Ini menunjukan bahwa Allah ingin meletakkan al-Quran sebagai hal yang luar biasa. Contohnya, alif laam miim: inilah Kitab; haa miim: inilah Kitab yang terang; alif laam miim: Allah tiada Tuhan melainkan Dia yang hidup dan berdiri sendiri. Dia telah menurunkan al-Kitab kepadamu; dan aliif laam miim: Kitab yang telah Kami turunkan kepadamu.
Abu Bakar Shidiq juga pernah memberi komentar soal ayat ini. Kata dia, “Demi Allah, dalam setiap al-Quran pasti ada rahasianya, dan rahasia al-Quran ada pada awal-awal surat.” Artinya, rahasia Surat al-Baqarah ada pada tiga huruf pertama ini, yaitu ya, sin, mim. Namun begitu, ia tidak pernah tahu apa yang dimaksud dan yang terkandung dalam ayat tersebut. Soalnya, Nabi sendiri tidak pernah memberi tahu apa makna di balik tiga huruf itu kepada para sahabatnya.
Rasyid Khalifah memberikan pendapat yang cukup berani dalam menafsirkan ayat ini. Tiga huruf ini, yaitu alif laam miim, merupakan huruf yang paling banyak terdapat di Surat al-Baqarah. Demikian juga pada surat-surat lain yang berawalan huruf yang terpisah, seperti haa miim, thaa haa, dan lainnya. Namun begitu, kata Rasid Khalifah, kesimpulan ini tidak berlaku pada ayat yaa siin. Pasalnya, huruf ya dalam susunan alfabet Arab itu berada sesudah huruf sin. Jadi, huruf ya dan sin bukanlah huruf yang paling banyak. Justru kebalikannya, yaitu huruf yang paling sedikit dalam surat itu.
Pendapat ini, menurut Quraisy Shihab, dinilai cukup berani dan bahkan kontroversial. Tokoh yang mengemukakan pendapat ini pun juga dinilai kontroversial. Menurut dia, perlu ada penelitian secara seksama dan mendalam sebelum membenarkan teori ini. Kaitan dengan ayat ini, Quraisy Shihab juga ikut memberikan beberapa catatan penting.
Pertama, huruf-huruf yang terpisah itu, baik alif laam miim, haa miim, yaa siin, dan sebagainya, yang digunakan sebagai pembuka surat dalam al-Quran berjumlah ada 14 huruf yang ditemukan dari jumlah alfabet Bahasa Arab yang kesemuanya ada 29 huruf.
Kedua, huruf-huruf itu mewakili makharij al-huruf (tempat-tempat keluarnya huruf). Misalnya, alif, yaitu berlokasi di kerongkongan sebagai pangkal pengucapan; lam, yaitu lidah dengan meletakkannya di langit-langit mulut sebagai pangkal pengucapan dan pengeluaran; dan mim, yaitu lahir dari pertemuan bibir atas dan bibir bawah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa alif laam miim merupakan awal, tengah dan akhir. Artinya, kalau dikaitkan dengan kandungan al-Quran, surat al-Baqarah membicarakan awal penciptaan, kehidupan di dunia, dan akhir penciptaan, yaitu Kiamat.
Ketiga, adanya ayat alif laam miim menunjukan bahwa al-Quran tidak dapat dibaca tanpa bantuan pengajaran. Memahami al-Quran haruslah dengan ilmu. Ada perangkat ilmu yang harus digunakan untuk bisa memahami isi al-Quran. Tak ada ilmu jika tidak ada guru. Itulah sebabnya kenapa kita butuh seorang guru dalam memahami al-Quran. Seorang guru menempati posisi penting dalam hal ini.
Ayat ini mengandung pesan bahwa untuk bisa membaca al-Quran haruslah belajar terlebih dulu kepada seorang guru. Surat al-Fiil juga dimulai dengan ayat yang ditulis sepenuhnya sama dengan alif laam miim. Tapi, pada Surat al-Fiil dibaca ‘alam’. Tentu saja perbedaan bacaan ini diketahui bukan dari tulisannya, melainkan dari pendengaran atau pengajaran. Pada awalnya, Nabi juga menerima ayat-ayat al-Quran melalui pengajaran dari malaikat Jibril, yang ketika mengajarkannya tidak membawa kertas selembar pun.Apapun yang dikemukakan para ahli tafsir di balik tiga huruf ini sebenarnya sah-sah saja. Kita anggap itu sebagai bagian dari upaya mengkaji dan menggali isi kandungan al-Quran yang sarat dengan ilmu pengetahuan dan wawasan informasi. Namun begitu, semuanya tentu kembali kepada Allah, karena hakikatnya hanya Allah yang tahu maksud dan arti di balik tiga huruf itu. Pasalnya, Nabi sendiri tidak pernah memberikan keterangan apapun soal tiga huruf itu, termasuk para sahabat. Maka, jawaban yang paling tepat adalah, “Allahu a’lamu bimuradihi bidzalika”.

5 komentar:

herisetiawansyamlani mengatakan...

Brilian merupakan kata yang amat pantes buat LOE, Mas.

Uup Gufron mengatakan...

Terima kasih atas komentarnya... Mungkin aku juga perlu komentar lain.....

dewi mengatakan...

bagus sekali, saya salaut sama kamu.tapi saya tidak paham bahasa atau pembahasannya untuk saya.
see you

Filsafatku mengatakan...

add me bro...

Uup Gufron mengatakan...

kepada Dewi, Mbak atau Ibu, terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Untuk tulisan berikutnya, saya akan usahakan menyesuaikan bahasan dan bahasanya agar lebih mudah dicerna. thanks...