Mei 10, 2008

Tafsir QS. Al-Baqarah: 4-5

Saat Kepatuhan Menuai Kenikmatan
Oleh: Uup Gufron
-----
Anda ingin memperoleh keberuntungan dalam hidup? Jadilah orang yang percaya pada al-Quran dan hari Kiamat. Itulah janji Allah, “Walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika, wamaa unzila min qablika, wa bil-akhirati hum yuuqinuun. Ulaaika ‘alaa hudan min rabbihim, wa ‘ulaaika hum al-muflihuun.” (QS. Al-Baqarah: 4-5)
-----
Suatu ketika, seorang anak muda tengah melamun sendirian. Ia berdiam di tengah terik gurun pasir. Ada gelisah dalam hati, ada penasaran dalam sanubari. Anak muda itu kemudian mencoba menguak kabar yang sedang hangat tersiar. Konon, ada orang mengaku sebagai Nabi. Ini tentu kabar mengejutkan. Bagi dia, sosok Nabi pastinya punya banyak keistimewaan. Ia bukanlah orang biasa.
Namun, sosok Nabi yang dikabarkan ini justru sedang dimusuhi. Banyak orang tak suka pada dia, termasuk ibunya. Bahkan, ibunya selalu berpesan agar dia tidak mengikuti ajaran baru yang sedang hangat diperbincangkan di kota kelahirannya itu. “Jangan sekali-kali kamu masuk agama itu. Aku tidak akan mengakuimu sebagai anak,” ancam sang ibu penuh serius, pada anaknya.
Ancaman ini tentu bukan main-main. Apalagi ibunya dikenal sebagai orang yang tegas dan keras. Maklum, ibunya adalah saudagar kaya dan tokoh agama di kota tersebut. Ia memiliki banyak kerabat di kota itu dan memiliki garis keturunan cukup terhormat. Ia sangat menyayangi anaknya, sehingga si pemuda itu menjadi anak yang hidup dalam kesenangan dan serba kecukupan.
Namun, kali ini hatinya sedang gundah. Ia mendengar kabar bahwa sosok Nabi itu sedang gencar menyebarkan ajaran baru, yaitu agama yang mengajarkan tentang Tuhan yang Satu. Tuhan yang tak beranak dan tidak diperanakkan. “Siapakah dia?” tanya pemuda itu dalam hati.
Di tengah kegelisahan dan penasaran yang kian berkecamuk dalam sanubari, ia kemudian bergegas mencari tahu. Ia bertanya ke sejumlah orang Quraisy. Kata mereka, “Dia adalah Muhammad, dari bani Hasyim.”
“Di mana kira-kira saya bisa menjumpainya?” tanya pemuda itu.
“Biasanya ia (Muhammad) dan pengikutnya mengadakan pertemuan di bukit Shafa, yaitu di rumah Arqam bin Abil Arqam,” jelas salah seorang dari mereka.
Pemuda ini langsung bergegas menuju ke sana. Sesampainya di sana ia menjumpai Muhammad dan pengikutnya. Ia duduk dan bergabung dalam pertemuan itu. Namun, di tengah pertemuan, ia mendengar sesuatu yang beda dari apa yang diucapkan Muhammad. Ia melantunkan ayat-ayat al-Quran yang indah dan penuh makna. Ia merasakan kenyamanan saat mendengarkannya. Ia seakan berdiri di tengah oase yang dikelilingi padang pasir yang tandus dan gersang. Ia merasakan kedamaian dalam hati.
“Wahai Muhammad,” kata dia sambil mengacungkan tangan, “mulai saat ini aku masuk agamamu dan mempercayai apa yang kamu ucapkan (al-Quran) sebagai wahyu dari Tuhanmu.”
Sejak itulah ia menjadi seorang muslim. Ketika pulang ke rumah, ia menceritakan hal itu pada sang ibu. Kontan saja ibunya marah. Ia langsung menampar mukanya. Namun, sebelum tangannya mendarat di pipi, tiba-tiba tangannya terasa kaku dan tergulai sendiri. Dari wajah anaknya terpancar cahaya silau. Pemuda itu tersenyum sambil membacakan ayat al-Quran, dan berkata, “Ibu, al-Quran mengajarkan tentang keindahan,” kata pemuda itu.
Pemuda itu tak lain adalah Mush’ab bin Umair. Ia sangat dibanggakan Nabi. Dalam sejarah Islam ia dikenal sebagai orang kepercayaan Nabi yang ditugaskan mengantarkan pesan-pesan dakwah. Dadanya juga pernah dielus-elus oleh Nabi. Ia masuk Islam dibawah tekanan ibu sendiri, yaitu Khusnus binti Malik.
Kisah hampir serupa juga menimpa Umar bin Khattab. ‘Raja Singa Padang Pasir’ itu memeluk Islam lantaran mendengarkan puterinya sedang membaca ayat al-Quran. Semula ia sangat membenci dan memusuhi Nabi. Ia bersama Abu Jahal begitu getol memeranginya. Namun, hatinya luluh ketika mendengar lantunan al-Quran. Ia membenarkan semua yang ada dalam al-Quran seketika itu. Ia pun menjadi pembela Islam di barisan paling depan.

Ahli Kitab dan Ajaran Nabi
Dua kisah ini mengingatkan kita perihal orang yang cinta pada al-Quran. Mush’ab bin Umair dan Umar bin Khattab adalah sosok orang beriman yang menerapkan kecintaannya pada al-Quran dengan membenarkan semua yang terkandung dalam al-Quran. Orang seperti ini dikategorikan sebagai orang yang benar-benar mencapai derajat takwa di mata Allah.
Ada satu hal penting yang terkandung dalam permulaan Surat al-Baqarah, yaitu lima ciri orang yang bertakwa kepada Allah swt. Orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah adalah mereka yang mempercayai hal gaib, mengerjakan shalat, dan menginfakkan sebagian hartanya (tiga hal ini dikupas pad rubrik Tafsir di Hidayah edisi 81). Sementara dua hal lainnya adalah percaya pada al-Quran dan kitab-kitab seberlumnya, serta mempercayai bakal terjadinya hari Kiamat.
Takwa, bagi Sayyid Quthub, adalah perasaan di dalam hati, kondisi nurani, sumber arah perjalanan dan amalan, penyatu perasan batin dan tindakan lahir, yang menghubungkan manusia dengan Allah baik secara sembunyi maupun terang-terangan, baik ketika ia sendirian maupun di hadapan banyak orang. Orang yang memiliki ketakwaan yang tinggi di hadapan Allah, maka ia akan memperoleh hidayah, hingga kemudian ia akan memperoleh keberuntungan dalam hidup ini, baik di dunia maupun di akhirat.
Allah berfirman, “Walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila min qablik, wa bil-akhirati hum yuuqinuun. Ulaaika ‘alaa hudan min rabbihim, wa ‘ulaaika hum al-muflihuun. [Dan mereka yang beriman kepada yang telah telah diturunkan kepadamu dan yang telah diturunkan sebelummu, serta tentang (kehidupan) akhirat mereka yakini. Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan itu pula orang-orang yang beruntung] (QS. Al-Baqarah: 4-5). Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud “yang telah diturunkan kepadamu” adalah Kitab al-Quran, sementara “yang telah diturunkan sebelummu” adalah kitab Zabur, Taurat dan Injil.
Sementara itu, Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam kitab tafsirnya, menyebutkan bahwa “yang telah diturunkan kepadamu” itu mencakup dua hal, yaitu ayat yang tertulis dan ayat yang tidak tertulis. Ayat yang tertulis, menurut dia, adalah pesan-pesan yang terkandung dalam al-Quran (lilhat QS. an-Nahl: 44). Sedangkan yang tidak tertulis adalah segala sesuatu yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, hal ini tentunya mencakup ucapan, perilaku dan ketetapan Nabi (lihat QS. an-Najm: 3-4).
Kemudian kata yu’minuuna (yang beriman), kata al-Maraghi, adalah ahli kitab yang beriman kepada Allah dan Rasulnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas. Kata yu’minuuna pada ayat ini berbeda dengan kata yu’minuuna pada ayat sebelumnya, yaitu QS. al-Baqarah: 3. Dalam ayat 3, kata yu’minuuna ditujukan kepada orang-orang Arab Jahiliyah yang beriman kepada Allh dan Rasulnya. Sementara dalam ayat ini adalah ahli kitab.
Ahli kitab adalah sebutan untuk komunitas yang mempercayai dan berpegang kepada agama yang memiliki kitab suci yang berasal dari Tuhan selain al-Quran, semisal Taurat maupun Injil. Berdasarkan petunjuk al-Quran, ulama tafsir dan fiqh sepakat bahwa komunitas yang disebut ahli kitab adalah golongan Yahudi dan Nasrani (lihat QS. al-Baqarah: 120). Namun, Muhammad Abdul Karim Syahristani, ulama ahli ilmu kalam, membatasi istilah ahli kitab hanya pada kalangan Yahudi dan Nasrani yang dari keturunan Bani Israil saja.
Sebaliknya, Quraish Shihab justru memahami istilah ahli kitab sebagai penganut agama Yahudi dan Nasrani, kapanpun, di manapun, dan keturunan siapapun. Argumentasi penulis buku Tafsir al-Misbah ini dilandaskan pada kandungan QS. an-An’am: 156, yang menyebutkan bahwa penggunaan al-Quran terhadap istilah ahli kitab adalah dua golongan, yaitu Yahudi dan Nasrani.
Memang, perdebatan mengenai keberadaan ahli kitab hingga kini masih silang pendapat. Ada yang menyatakan bahwa ahli kitab itu sudah tidak ada, seiring dengan sudah tidak ‘murninya’ kandungan kitab Taurat dan Injil. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa golongan ahli kitab itu masih ada hingga sekarang. Tapi dalam kenyataannya memang tidak semua ahli kitab bersikap sama terhadap umat Islam. Oleh karena itu, al-Quran mengajarkan agar umat Islam menyikapi terhadap ahli kitab ini sesuai dengan sikap mereka terhadap Islam (lihat QS. al-Ankabut: 46).

Sindiran Untuk Kaum Yahudi
Lantas, untuk apa kata yu’minuuna ditujukan pada ahli kitab? Muhammad Mutawalli Sya’rawi dalam tafsirnya menjelaskan hal ini dalam konteks sejarah. Menurutnya, ketika Islam datang, Islam langsung dihadapkan pada dua kelompok manusia. Pertama adalah kelompok kafir, yaitu yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedua adalah kelompok ahli kitab, yaitu kelompok orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta kitab-kitab-Nya.
Kelompok yang pertama cenderung terus terang dalam memusuhi Nabi. Apa yang dilakukan Umar bin Khattab sebelum masuk Islam adalah buktinya. Namun, setelah ia masuk Islam, ia justru menjadi pembela Islam di barisan terdepan. Beda halnya dengan kelompok kedua yang cenderung sembunyi-sembunyi dan menikam dari belakang. Hal inilah yang menimpa Nabi ketika berada di Madinah. Kaum Yahudi menikam dan memusuhi Nabi dari arah belakang.
Padahal, Allah sebenarnya telah memberikan identitas kenabian Muhammad dalam kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Injil, baik soal nama maupun sifat-sifatnya. Allah menganjurkan kepada ahli kitab yang akan mengenali Rasulullah agar percaya kepadanya. Sifat-sifat yang dijelaskan dalam kitrab suci sebelum al-Quran itu membuat mereka (ahli kitab) betul-betul mengenali Rasulullah sebagaimana mereka mengenali anak mereka sendiri.
Anda tentu masih ingat dengan nama Waraqah bin Naufal. Ia adalah seorang pendeta dari kaum Nasrani. Ia tahu persis soal kedatangan Nabi yang bakal diutus Allah di tanah Arab. Bahkan, Waraqah dikenal sebagai orang pertama yang mengakui kenabian Muhammad setelah menerima wahyu yang pertama di Gua Hiro. Sayangnya, pengakuan Waraqah ini tidak diikuti oleh kaum Nasrani dan Yahudi kala itu, karena ia terlebih dulu meninggal dunia di usianya yang sudah tua.
Orang Yahudi di Madinah sebenarnya juga mengetahui perihal ini. Sebelum kedatangan Nabi dan para sahabat di sana, kaum Yahudi sempat berselisih dengan penduduk asli Arab di Madinah, yaitu suku Aus dan Khazraj. Orang Yahudi kemudian mengancam, “Masa kedatangan seorang Rasul yang akan kami imani sudah dekat dan bersamanya kami akan menghancurkan kalian sebagaimana hancurnya kaum ‘Ad.” Ancaman ini mengindikasikan bahwa mereka (Yahudi) sebenarnya mengharapkan kedatangan Nabi itu.
Namun, ketika Rasulullah datang ke Madinah, justru orang Yahudi tidak mengakui Muhammad sebagai Nabi. Mereka bahkan memeranginya, sementara suku Aus dan Khazraj menyambutnya dengan penuh kehangatan (lihat QS. al-Baqarah: 89). Kaum ini kemudian mengimani Rasul dan masuk Islam, serta menjadi golongan pembela dan penolong umat Islam, yang kemudian dikenal dengan sebutan Kaum Anshar.
Orang Yahudi yang tinggal di Madinah adalah sekelompok orang yang berasal dari bangsa Romawi yang mengalami pengusiran beberapa kali di Palestina. Mereka menganggap bahwa kedudukan mereka lebih tinggi ketimbang bangsa Arab asli yang tinggal di Madinah. Akibatnya, mereka angkuh dan enggan untuk bergabung dengan ajaran Nabi.
Nabi Muhammad, menurut Buya Hamka, sebenarnya telah menjelaskan bahwa kedatangan Islam sebenarnya tidak hendak memusuhi Yahudi, tetapi justru meneruskan usaha para rasul yang terdahulu. Sebab, Yahudi dan Nasrani adalah agama satu rumpun, yang berakar pada satu agama, yaitu agama “menyerahkan diri kepada Allah”, yang telah dimulai sejak Nabi Ibrahim.
Ibrahim menurunkan silsilah ke Nabi Ishak, sementara Nabi Ya’qub melahirkan kaum dari bangsa Bani Israil. Nabi Ibrahim memiliki anak bernama Nabi Ismail dan menurunkan keturunan hingga Nabi Mahammad dan Arab Musta’ribah. Nah, kedatangan Nabi Muhammad justru mengajak kaum Yahudi dan Nasrani untuk kembali kepada agama semula, yang diajarkan Nabi Ibrahim.
Namun, kenabian Muhammad ternyata tetap tidak diakui. Ayat ini sebenarnya tertuju untuk mereka sekaligus menyindirnya, yaitu ahli kitab, yang percaya pada kitab-kitab mereka agar juga meyakini al-Quran sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Al-Quran juga menyinggung soal Kiamat untuk menyindir mereka. Penggalan ayat “Wa bil-akhirati hum yuuqinuun.[Serta tentang (kehidupan) akhirat mereka yakini]”. Soal Kiamat tidak pernah dijumpai dalam Kitab Taurat maupun Injil. Kedua kitab itu hanya berbicara tentang kehidupan dunia belaka dan membuang jauh-jauh hal yang bersifat ukhrawi.
Ayat ini, secara implisit, juga menyindir siapa saja yang tidak mempercayai hari Kiamat. Jika ada orang yang percaya pada Allah, hal gaib, kemudian menjalankan shalat dan berzakat, serta percaya pada al-Quran, tapi tidak mempercayai hari Kiamat, maka ia tidak dapat dibilang sebagai orang yang beriman (mukmin).

Kiamat itu Rumah Kembali
Hari akhir ialah hari pembalasan terhadap segala amal perbuatan manusia. Iman terhadap hari akhir berarti percaya terhadap semua kejadian yang ada melalui keterangan-keterangan yang ada dalam al-Quran maupun Hadits. Misalnya, hisab (perhitungan amal), mizan (timbangan amal), sirath (jembatan shirath al-mustaqin), surga, dan neraka.
Abu Ja’far dalam Tafsir at-Thabari berpendapat bahwa akhirat adalah sifat bagi rumah tempat kembali. Hal ini Allah singgung dalam QS. al-Ankabut: 64. “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesunguhnya rumah akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan, jikalau mereka mengetahui.”
Kiamat disebut hari akhir karena ia merupakan tempat tingal yang terakhir setelah tempat tinggal pertama, yang disebut dunia. Dinamakan akhirat juga kerena ia diciptakan paling terakhir, seperti halnya dunia (yang berarti dekat) disebut dunia karena ia diciptakan paling dekat.
Yang terkait dengan hari akhir adalah segala sesuatu yang terjadi setelah Kiamat, yang mencakup soal kebangkitan umat manusia dari alam kubur, kemudian dikumpulkan di Padang Mahsyar, perhitungan amal (hisab), soal shirath al-mustaqim, hingga pada persoalan surga dan neraka.
Yakin pada hari Kiamat adalah membenarkan secara pasti tanpa keraguan atau syak di dalamnya. Itu bisa diketahui pada diri seseorang melalui tingkah perbuatannya. Siapapun yang melakukan perbuatan dosa, seperti berzina, mabuk, mencuri, dan sebaginya, berarti ia tidak percaya pada hari Kiamat. Sebab, orang yang percaya pada hari Kiamat tentu tak akan melakukan hal demikian. Orang bisa dikatakan percaya pada hari kiamat apabila ia dapat mengendalikan jiwa dalam segala tingkah laku.
Nah, lima ayat dalam Surat al-Baqarah ini, yang menceritakan perihal ciri-ciri orang takwa, ditutup dengan satu ayat, “Ulaaika ‘alaa hudan min rabbihim, wa ‘ulaaika hum al-muflihuun [Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan itu pula orang-orang yang beruntung]” (QS. Al-Baqarah: 5). Ada dua hal yang diperoleh orang yang menjaga hatinya dalam keadaan iman dan takwa. Ia akan memperoleh petunjuk dari Allah dan ia pun akan memperoleh kemenangan dalam hidup.
Ismail Haqqi al-Buruswi menjelaskan dalam Kitab Tafsir Ruhul Bayan, bahwa orang beruntung (muflihuun) itu seperti orang yang memperoleh hujan yang lebat, seolah-olah terbuka baginya jalan-jalan keuntungan dan tidak terkunci. Ada tiga keuntungan yang akan diperoleh. Pertama, keuntungan ruhaniah. Mereka (orang takwa) tidak akan mudah terkecoh oleh tipu daya jahat dari teman-teman di sekelilingnya. Kedua, selamat dari kekafiran, kesesatan, kebodohan, bencana, siksa neraka, dan lepas dari segala hal yang merugikan. Ketiga, mereka tetap berada dalam kenikmatan selama berada hidup di dunia. Mereka tidak mudah sedih, miskin, sakit, dan teraniaya. Lebih dari pada itu, orang ini bakal berkumpul di surga bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sejuta kenikmatan menunggu di sana. Semoga saja kita termasuk dalam golongan ini. Mudah-mudahan!

Tidak ada komentar: